Rabu, 23 Juli 2014
Satelit NOAA-18 Pantau Hotspot Terbanyak dari Perusahaan
19 Juni 2012 Bengkalis

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Pelalawan semakin mengkhawatirkan. Setidaknya 70 hotspot terpantau Satelit NOAA-18 di sejumlah kecamatan di daerah ini. Titik panas tidak saja ditemukan di areal perkebunan masyarakat, tapi juga terdeteksi di HTI, HPH juga perkebunan milik perusahaan. Akibat kebakaran tersebut sejak beberapa hari terakhir, Pangkalan Kerinci diselimuti kabut tipis.

"Memang belum begitu terasa mengganggu, karena jarak pandang masih normal. Tapi kabut tipis tetap jelas," kata Ahmadi (29) warga Pangkalan Kerinci, Selasa (19/6/12).

Sementara itu, data satelit yang dikeluarkan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Pelalawan menunjukkan sejak 1-17 Juni 2012 di Kabupaten Pelalawan ditemukan 70 titik panas yang tersebar disejumlah kecamatan. Setidaknya ada 4 kecamatan yang menyumbang titik api, diantaranya Kecamatan Langgam, Pangkalan Kuras, Bunut dan Kecamatan Langgam.


Hotspot terbanyak ditemukan di Kecamatan Langgam dengan jumlah 30. Diantaranya berada di Desa Segati HPH milik PT Siak Raya Timber, PT Hutani Sola Lestari. Selain itu ada juga di areal HTI CV Riau Jambi Sejahtera,  PT RAPP serta perkebunan masyarakat.

Titik panas kedua terbanyak yang juga menjadi sumber asap terpantau di Kecamatan Pangkalan Kuras, masing-masing di HTI PT Rimba Lazuardi, PT Sinar Deli Pratama di Desa Lubuk Kembang Bunga, PT RAPP, CV Radita dan lainnya.   

Menyusul di Kecamatan Kuala Kampar dengan 15 titik panas yang ditemukan di PT Panca Surya Agrindo Sejahtera, PT Guntung Hasrat Makmur, PT Selaras Abadi Utama dan lainnya. Sedangkan di Kecamatan Bunut ada 6 hotspot masing-masing di perkebunan PT Mekarsari Alam Lestari (PT MAL) dan beberapa perusahaan lainnya.

"Sebenar hotspot ini tak hanya tersebar di 4 kecamatan tersebut, tapi memang ada beberapa kecamatan dan kecamatan yang sudah dilakukan pemekaran, namun masih dicantumkan pada kecamatan induknya," terang Sekretaris BLH Pelalawan Emir Effendi,S.Sos.

Lebih rinci disebutkannya, dari 70 titik panas yang terpantau satelit masing-masing 28 titik di areal perkebunan masyarakat (APL), 10 titik di perkebunan perusahaan, 18 titik di areal HTI dan 15 HPH perusahaan.

Ditanya upaya pencegahan yang akan dilakukan, Emir Effendi menambahkan pihaknya sedang berkoordinasi dengan Asisten III Setkab Pelalawan Drs H Edi Suriandi selaku pelaksana harian (Plh) BLH Pelalawan. "Ya saya akan koordinasi dulu dengan Pak Edi untuk mengambil langkah-langkah antisipasi," paparnya.

Namun yang jelas ditegaskan mantan Kabag Humas Pelalawan lagi, semua pihak baik masyarakat maupun perusahaan hendaknya berupaya mencegah semakin meluasnya kebakaran lahan dan hutan di wilayahnya masing-masing. "Apa pun penyebab kebakarannya ya harus dipadamkan agar tidak terus meluas. Dan yang pasti tidak dibenarkan melakukan pembakaran lahan dan hutan karena ada sanksi hukumnya," ujarnya.**mr

Satelit NOAA-18 Hotspot Perusahaan Pelalawan
comments powered by Disqus
Bentrok Dua Desa, Wabup Rohul dan Kapolresnya Redamkan Massa

Bentrok Dua Desa, Wabup Rohul dan Kapolresnya Redamkan Massa

21 Juli 2014 Rokan Hulu

Dua desa bentrok di Kabun cepat diredam aparat. Wabup Rohul Hafith Syukri bersama Kapolres AKBP H Onny Trimurti Nugroho langsung

Bentrok Dua Desa, Wabup Rohul dan Kapolresnya Redamkan Massa

Bentrok Dua Desa, Wabup Rohul dan Kapolresnya Redamkan Massa

21 Juli 2014 Rokan Hulu

Dua desa bentrok di Kabun cepat diredam aparat. Wabup Rohul Hafith Syukri bersama Kapolres AKBP H Onny Trimurti Nugroho langsung