Kabar Riau - Pedagang Bendera Mengeluh, Hasil Jualan Cuma jadi 'Ganjal Perut'

Pedagang Bendera Mengeluh, Hasil Jualan Cuma jadi 'Ganjal Perut'

Roni
Share :
pedagang-bendera-mengeluh-hasil-jualan-cuma-jadi-ganjal-perut

Kabarriau.com, Pekanbaru - Menjelang hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-73, penjual bendera dan aksesoris tujuh belasan mulai ramai memenuhi setiap sudut Kota Pekanbaru. Satu sisi pedagang diminta taat aturan, sisi lain mengeluh karena hasil jualan hanya bisa mengganjal perut.

"Tahun ini penjualan relatif sepi jika dibandingkan tahun sebelumnya, omzet penjualan pun hanya Rp 100 ribu sampai 200 ribu, padahal tahun sebelumnya bisa mencapai Rp 500 ribu per hari," kata Hariadi (47) pedagang dibilangan jalan Arifin Achmad Pekanbaru, Jumat (9/8/2018).

Dia berharap agar penjualan bendera tahun ini omzetnya naik dibandingkan tahun lalu. Hari ini Hariadi pedagang musiman menjual bendera juga menjajakan beragam atribut, mulai dari umbul-Umbul hingga pernak-pernik merah putih lainnya. "Jualan sudah sejak awal Agustus kemarin, tapi ya sepi begini," katanya.

Dia mengaku sedikit jengkel pada pembeli. "Pembeli bendera dan pernak-pernik Agustusan banyaknya menawar harga, padahal pejuang untuk bisa meraih kemerdekaan tidak ada tawar menawar," celoteh pemuda yang tinggal di Kelurahan Sidomulio Timur ini.

Bendera yang jual memiliki jenis dan harga yang bervariasi, mulai dari bendera merah putih ukuran 90 sentimeter yang dipatok dengan harga Rp 30 ribu, umbul-umbul kecil ukuran 3 meter Rp 50 ribu, hingga background yang mencapai ratusan ribu rupiah. "Background ukuran tiga meter harga ada yang Rp 100 ribu tapi ada yang di atas Rp 100 ribu. Bendera biasa jual Rp 30 ribu sampai Rp 70 ribu, itu juga masih banyak ditawar pembeli," terangnya.

Hariadi berharap semakin dekat dengan perayaan tujuh belasan dagangannya bisa laris manis tanjung kimpul, atau istilah dagangan hasil duitnya kumpul. "Hari ini baru menjual empat bendera dari pengendara yang melintas. Ya lumayan buat ganjal perut. Mudah-mudahan besok bisa laris lagi," ujarnya. 

Pedagang Bendera Taat Aturan

Dibilangan jalan arifin Achmad pedagang bendera merah mutih, serta pernak pernik lainnya menghiasi di badan jalan, namun diminta tetap tat aturan.

"Kita tidak melarang pedagang berjualan. Tapi jangan ditrotoar, pohon pelindung, atau menggunakan badan jalan. Selama ini kan seperti itu dilakukan. Ini melanggar aturan. Silakan berjualan di tempat yang tidak melanggar aturan," kata Anggota DPRD Pekanbaru Heri Pribasuki.

Para pedagang tidak dibenarkan berjualan di badan jalan karena bisa menganggu aktvitas pengguna jalan. Pedagang jadi serba salah di satu sisi pedagang ini dibutuhkan warga yang ingin mudah membeli bendera. Namun disi lain pedagang berdagang yang bukan di tempatnya yakni difasilitas umum, seperti trotoar yang sebenarnya berfungsi untuk pejalan kaki.

Lantas pihak dewan minta Satpol PP, Lurah, RT dan RW serta organisasi lainnya mengantisipasi ketidak tertiban pedagang. "Petugas harus buat spanduk larangan di titik-titik, yang sering digunakan pedagang untuk berjualan," sebut Heri Pribasuki.

Pedagang diminta untuk mentaati aturan yang sudah ada. "Pemerintah melarang, karena untuk kebaikan bersama, masyarakat banyak. Kita himbau masyarakat menyemarakkan HUT Kemerdekaan dengan memasang bendera merah putih, umbul-umbul di depan rumahnya. Terutama kantor-kantor dan gedung lainnya," pintanya. (kbr/jon/*)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :