Kabar Riau - Keanekaragaman Hayati Hutan Lingga Terancam

Keanekaragaman Hayati Hutan Lingga Terancam

Roni
Share :
keanekaragaman-hayati-hutan-lingga-terancam

Kabarriau.com, Daik Lingga - Kawasan hutan lindung di Kabupaten Daik Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati. Kini keasrian dan pelestarian isi hutan terancam dari pembalakan liar.

"Sumberdaya hutan masih dianggap sebagai sumber pendapatan dan keuntungan semata, menjadikan kontribusi besar terhadap kerusakan hutan berbagai celah," diakui Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Lingga, Rusli Ismail belum lama ini pada wartawan.

Menurutnya, lemahnya pengawasan hutan di Lingga akibat ditariknya kewenangan kehutanan ke Provinsi Kepri. Hal tersebut membuat keberadaan hutan lindung Lingga kian terancam dengan banyaknya aktivitas ilegaloging dan pembalakan liar. Ia berharap Provinsi harus menempatkan polisi hutan (Polhut) di Lingga. "Kita di kabupaten sudah tidak ada kewenangan untuk menjaga keasrian hutan di Lingga,” kata Rusli.

Pada pembicaraan kemarin Badan Pekerja Nasional (Bakernas) Investigation Corruption Indonesian (ICI) H Darmawi Aris SE menilai tentang mulai rusaknya hutan lindung di Lingga dalam beberapa dekade belakangan ini menyebutkan, Iklim yang lebih hangat dan kering menjadi malapetaka bagi spesies yang tidak mampu beradaptasi dan mengurangi manfaat lingkungan di sekitar Lingga.

"Kawasan hutan lindung penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di hutan itu," sebutnya.

Menurutnya beberapa spesies yang ada di hutan lindung Lingga mungkin mati, beberapa lainnya akan” bermigrasi” dengan memperluas jangkauan mereka ke tempat-tempat yang temperatur rata-ratanya lebih rendah. “Kawasan hutan lindung di Lingga secara historis berada di pulau. Hutan itu  selama ini dipertimbangkan sebagai bagian dari jaringan ekologis,” sebutnya.

“Negara dan Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) harus melihat hal ini sebagai bagian dari strategi pengembangan multisektor” ujar Darmawi.

Ketua Lembaga Melayu Riau (LMR) yang pernah melihat hutan di Lingga itu melihat sejak Kepri berdiri menjadi Provinsi terpisah dari Riau, bahkan sejak Daik Lingga terbentuk menjadi kabupaten baru perubahan signifikan pada rentang waktu khususnya hutan lindung Lingga, baru-baru ini menemukan bahwa banyak jenis tanaman punah dan satwa liar mulai bermigrasi ke tempat yang lebih tinggi.

"Hal yang sama juga akan terjadi pada spesies tanaman pangan dan hama yang mewabahinya," kata dia menambahkan meningkatnya temperature akan menyebabkan penyakit bergerak ke tempat yang lebih tinggi, sebutnya.

Dijelaskannya, pada peningkatan temperatur dilingkungan itu beberapa tanaman menghadapi tantangan memproduksi varietas tanaman pangan yang antihama dan toleran terhadap panas, "terong, cabai, kacang panjang serta jenis sayuran lainnya jikapun ingin hidup para petani harus menggunakan jaring untuk melindungi tanaman dari serangan serangga dan menerapkan langkah-langkah ketat untuk menghindari penyakit," terangnya.

Hal lain penyebab ini tentu habitat alami telah terfragmentasi pembukaan lahan-lahan baru, dan pembangunan infrastruktur.

Hutan Lindung Mulai Dijarah

Pelaku menjarah kayu di kawasan hutan lindung di Lingga, membuat aparat hukum makin meningkatkan operasi di jalan keluar dari hutan lindung. Selama dua tahun terakhir aparat hukum sudah dua kali mengungkap adanya pencurian kayu dari hutan lindung.

"Ini sudah sangat berbahaya pak, karena hutan lindung adalah hutan yang harus aman untuk fungsi menjaga ekosistem udara dan lingkungan dari bahaya bencana alam. Tapi kalau hutan lindung dijadikan sasaran, maka sebenarnya ada ancaman besar bagi warga sekitar hutan lindung itu," kata Ketua Ormas Gerakan Masyarakat (Gema) Lingga, Zuhardi lewat ponselnya belum lama ini.  

Dijelaskan Zuhardi, kayu di kawasan hutan lindung ukurannya sangat besar, bahkan diameternya diatas 1 meter. Tanaman ini sudah berusaia rata-rata puluhan bahkan sampai seratus tahun. Namun para pembalak liar ini seakan tidak peduli dengan bahaya yang bisa disebabkan oleh pencurian kayu tersebut. "Saya sangat yakin ada penadah besar dibalik perusakan hutan lindung ini," kata Zuhardi lagi.

Pemerintah kabupaten Lingga, melalui dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) juga sudah melakukan program kerja pencanangan penambahan lokasi hutan karbon diwilayah hutan Lindung pegunungan Lingga. Tahun 2016 lalu pemerintah setempat memperluas area hutan karbon dan menambah 5 titik plot karbon lagi di hutan Lindung baik dilereng gunung Daik maupun lereng gunung Sepincan pulau Lingga.

Lingga hanya kepulauan kecil yang daratannya hanya 4 persennya dari luas keseluruhan. Namun, kekayaan hayati yang begitu berpotensi sebagai penyumbang karbon dunia menjadi salah satu keuntungan yang dimiliki kabupaten Lingga. Hutan yang alami dengan 56 jenis tanaman kayu hutan yang di lindungi ditambah lagi beraneka jenis anggrek, puluhan jenis hewan dan tumbuhan herbal lainnya dapat ditemukan di pulau Lingga, ungkapnya.

Saat ini sedikitnya ada 56 jenis tumbuhan kayu yang di lindungi dunia masih berada di hutan lindung Lingga, begitu juga hidup satwa liar yang ada di pulau yang dekat dengan perairan Laut Cina Selatan itu. (kbr.s.hen/*) 


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :