Kabar Riau - Kejaksaan Serius Tangani Dugaan Korupsi Pipa Transmisi

Kejaksaan Serius Tangani Dugaan Korupsi Pipa Transmisi

Roni
Share :
kejaksaan-serius-tangani-dugaan-korupsi-pipa-transmisi

Kabarriau.com, Pekanbaru - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau telah menerima kembali berkas perkara atau tahap I, kasus dugaan korupsi pengadaan pipa transmisi di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dari Polda Riau.

"Penyerahan tahap I yang kedua itu, tanggal 26 Juni 2018 kemarin. Itu untuk dua tersangka," ungkap Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Muspidauan pada wartawan, Senin (2/7/2018). 

Untuk saat ini masih dua orang tersangka yang terlibat pasca perkara ditingkatkan ke tahap penyidikan. Dengan kata lain, belum ada penambahan jumlah tersangka. Dua orang tersangka yang ditetapkan ini yakni Sabar Stevanus P Simalonga selaku Direktur PT Panatori Raja yang merupakan pihak rekanan, dan Edi Mufti BE selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Menurut Muspidauan, ada petunjuk yang pernah diberikan Jaksa Peneliti kepada penyidik Polda Riau, untuk segera dilengkapi dalam berkas perkara atau tahap I. Petunjuk itu, yakni menambahkan keterangan saksi lain. "Akan ditelaah kembali oleh Jaksa Peneliti. Jika sudah dipenuhi, berkas perkara akan dinyatakan lengkap. Jika belum, sebaliknya akan kita kembalikan lagi," beber Muspidauan. 

Penyerahan berkas perkara atau tahap I tersebut, pertama dilimpahkan tanggal 30 April 2018, lalu. Setelah ditelaah, ternyata hasilnya masih didapati adanya kekurangan syarat formal dan materil. Jaksa menyatakan berkas perkaranya belum lengkap. "Makanya, berkas perkara kita kembalikan ke penyidik dengan petunjuk yang harus dilengkapi," singkat Muspidauan. 

Kasus ini mencuat setelah adanya laporan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Proyek milik Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Riau tahun 2013 ini, menghabiskan dana sebesar Rp3 miliar lebih. Proyek diduga tidak sesuai spesifikasi, yang mengakibatkan potensi kerugian negara Rp1 miliar lebih.

Sementara pada lokasi pekerjaan pemasangan pipa, tidak ditemukan galian sama sekali, bahkan pipa dipasang di atas tanah. Selain itu, pada item pekerjaan timbunan bekas galian, juga dipastikan tidak ada pekerjaan timbunan kembali, karena galian tidak pernah ada.

Proyek dimulai 20 Juni 2013 sampai dengan 16 November 2013, sementara pada akhir Januari 2014 pekerjaan belum selesai. Seharusnya, kontraktor pelaksana PT Panotari Raja diberlakukan denda keterlambatan. Namun pihak Dinas PU Riau disebut tidak melakukan hal tersebut.

Selain itu, Dinas PU Riau juga diduga merekayasa serah terima pertama pekerjaan atau Provisional Hand Over sebagaimana tertuang dalam Berita Acara Serah Terima Pertama Pekerjaan/PHO Nomor: 0/BA.ST-I/FSK.PIPA.TBH.XII/2013 tanggal 13 Desember 2013.

Gemetar Desak Polda Riau  

Sebelumnya massa Gerakan Mahasiswa Tembilahan Anti Korupsi (Gemetar) telah mendesak Polda Riau terkait kasus dugaan korupsi pipa transmisi di Kabupaten Inhil. 

Massa menuntut pihak penegak hukum, yakni Polda Riau dan Kejati Riau melakukan gelar perkara kembali, bentuk menindak lanjuti kasus korupsi pipa transmisi tahun 2013 melalui gelar unjuk rasa di depan kantor Mapolda Riau, Selasa (15/5/2018) sore,

Proyek milik Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Riau tahun 2013 ini, menghabiskan dana sebesar Rp3 miliar lebih. Proyek diduga tidak sesuai spesifikasi, yang mengakibatkan potensi kerugian negara Rp1 miliar lebih.

Proyek dimulai 20 Juni 2013 sampai dengan 16 November 2013, sementara pada akhir Januari 2014 pekerjaan belum selesai. Seharusnya, kontraktor pelaksana PT Panotari Raja diberlakukan denda keterlambatan. Namun pihak Dinas PU Riau disebut tidak melakukan hal tersebut, sorot Gemetar. (kbr.ron/*)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :