Kabar Riau - Pengusaha Kapal Nelayan di Lingga Menderita Kerugian

Pengusaha Kapal Nelayan di Lingga Menderita Kerugian

Samsul
Share :
pengusaha-kapal-nelayan-di-lingga-menderita-kerugian

Kabarriau.com, Daik Lingga -  Kisah yang dialami Saleh (48), salah satu pengusaha kapal nelayan di Desa Bakong, Kecamatan Singkep Barat di Kabupaten Daik Lingga, Provinsi Riau (Kepri) mengaku terus merugi. 

Zaman sekarang ini, kata dia mendapatkan pekerjaan yang sesuai cukup sulit. "Perlu kesabaran dan perjuangan tekun untuk mendapatkan hasil yang diinginkan," kata lelaki asal Daik Lingga ini. 

Saleh mengalami perjalanan karir sebagai pembuat dan perbaikan kapal nelayan ini mengaku cukup panjang. Saleh mengaku merantau ke Daik Lingga sejak kecil dan setelah dewasa bekerja awalnya serabutan. Sampai kinipun dia mengaku tidak tahu menahu tentang administrasi kantor. Namun dirinya terus berusaha walaupun sering kena sorot oleh masyarakat dilingkungannya. 

"Dari usaha pembuat kapal nelayan ini saya ingin lebih maju lagi makanya saya coba usaha ini. Sampai sekarang saya pun akhirnya menjalankan usaha ini," ujar Saleh dihubungi melalui via ponselnya, Sabtu hingga Minggu (28-29 Juni 2018).

Menjalankan usaha sebagai pembuat kapal nelayan membuat usaha Saleh mengalami naik turun di pangsa pasar, bahkan dirinya terus mengalami penyusutan bahan baku. "Kesulitan bahan baku kayu memang menjadi sangat kendala bagi kita disini," ungkapnya. 

Namun perlahan tapi pasti Saleh mencoba menekuni usahanya jika ada bahan baku ia buat kapal nelayan seberat 20 ton sesuai permintaan. "Jika bahan baku sedang tak ada, kita cukup melakukan perbaikan dan perehapan kapal nelayan yang mengalami kerusakan," sebutnya.

Menurutnya, kayu resak dan meranti pada umumnya sebagai bahan pembuat kapal, "untuk pembuatan kapal nelayan seberat 20 ton dibutuhkan waktu 4 bulan, jika selesai di buat dapat dihargai Rp100.000.000 lebih," cerita dia.

Soal bahan kayu diproleh, Saleh tak menampik didapat dari area hutan lindung seputaran Pulau Dabo Kabupaten Lingga, "saya hanya menerima orderan bahan baku dari masyarakat, dan jika ada pesanan ya kita buat kapalnya," diakuinya. 

Tidak disangka ternyata usahanya maju, bahkan dirinya banyak menerima pesanan umumnya dari Batam. Saleh mengaku bersyukur karena menuruti orangtua maka pintu rezeki akan terbuka.

Pengusaha Kapal Menderita Kerugian

Pengusaha pembuat kapal nelayan belakangan justru mengalami kerugian. Pasalnya, penyebab utama bahan baku kayu yang dibutuhkan terbatas.

Pelaku pencari bahan baku ilegal loging tanpa izin resmi menjadi sorotan masyarakat dan tak luput dari pantauan penegak hukum diwilayah kerja Kabupaten Lingga. 

Kayu resak dan meranti untuk pembuatan kapal, banyak ditebang di hutan lindung seputaran pulau Dabo Kabupaten Lingga, Bahkan pelaku-pelaku Illog setelah diketahui tak memiliki perijinan.

Seperti disebutkan Kepala Desa (Kades) Bakong, Sapiudin mengaku sejak awal dirinya menjabat belum pernah mengeluarkan izin apapun kepada setiap pengusaha galangan kapal itu. 

”Mereka melakukan aktivitas diwilayah desa dan kerja saya namun dalam hal pembuatan Surat Keterangan Usaha (SKU) mereka saya tidak berani,” sebutnya.  

Para pengusaha, kata dia melakukan usaha galangan kapal maupun olahan dapur arang sudah puluhan tahun di Lingga baik soal pasokan bahan baku pembuatan kapal (pasokan kayu). Alhasil para pengusaha kapal nelayan tampaknya lebih banyak mengeluh. Sebab, keterbatasan bahan baku untuk membuat kapal.

Amiang, salah satu pengusaha kapal di Lingga mengatakan, pihaknya terpaksa tetap mengoperasikan kapalnya untuk membantu kepentingan masyarakat yang bekerja sebagai buruh nelayan. "Jika dihentikan, kemungkinan akan banyak pula yang kehilangan mata pencaharian," ungkapnya.

Menurut Amiang, minimnya hasil tangkapan ikan selama beberapa bulan terakhir ini merupakan hal yang biaya terjadi setiap awal tahun.  "Keadaan itu tidak terlepas dari cuaca dingin dan kuatnya gelombang, sehingga mengakibatkan ikan berpindah ke daerah lain mencari suhu udara yang lebih panas," katanya.

Dia juga mengaku kesulitan jika kapal-kapal miliknya sedang mengalami kerusakan bahkan pada saatnya untuk harus diganti baru. "Ini sudah menjadi kesulitan kami di daerah yang mayoritas di kelilingi perairan laut. Alhasil merembtt pada usaha yang kurang lancar," terangnya.

Pemprov Tetap Alokasikan Anggaran 

Sementara Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus berupaya meningkatkan kesejahteraan nelayan. Terlebih, salah satu prioritasnya yakni mengembangkan potensi kemaritiman.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepri Edy Sofyan menyampaikan, 2018 Pemprov Kepri terus meningkatkan bantuan nelayan. Bantuan ini diberikan, karena melihat kondisi masyarakat di lapangan. Gubernur tetap memerhatikan nasib dan peningkatan kesejahteraan nelayan serta produksi tangkap maupun produksi budidaya ikan. "Bantuan setiap tahun selalu ada. Hanya saja, bantuan yang diberikan lebih tepat sasaran. Sesuai kebutuhan," terangnya.

Ia mengaku, untuk bisa mendapatkan hasil baik memperoleh hasil tangkap yang maksimal bagi nelayan memang dibutuhkan kapal yang bagus. "Untuk itu tahun 2018 kita alokasikan demi memfasilitaskmi mereka," tuturnya.

Banyak kelompok nelayan maupun pribadi yang mengusulkan bantuan alat tangkap dan kapal ke DKP Kepri. "Kita lihat proposal yang mereka ajukan, kemudian dilakukan survey oleh tim yang dibentuk. Kita memberikan bantuan, biasanya atas dasar kebutuhan. Kita juga berharap ke depan, masyarakat nelayan kita bina, untuk jadi nelayan yang mandiri. Jadi tak boleh kita bangun satu sikap, setiap tahun menunggu bantuan. Artinya mereka tidak mandiri," jelas Edy.

Tahun 2017 kemarin sesuai dengan arahan Gubernur, kata Edy mencontohkan, sekitar 224 unit alat tangkap beserta fiber atau wadah penampungan ikan dengan total anggaran Rp 6,048 miliar disalurkan ke para nelayan yang membutuhkan di Kepri. Sementara, untuk Kabupaten Lingga di upayakan bantuan pompong kayu ukuran 1 sampai 2 Grosston (GT) untuk masyarakat setempat. "Tapi kita lebih fokus sampan ketinting, berbahan fiber dan kayu. Kalau Batam Bintan dan Karimun jenis ketinting fiber, kalau Lingga banyak permintaan kayu," jelasnya. (kbr.hen/sul/*)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :