Kabar Riau - Petani di Lingga Mengeluh Harga 'Sahang' Anjlok  

Petani di Lingga Mengeluh Harga 'Sahang' Anjlok  

Samsul
Share :
petani-di-lingga-mengeluh-harga-sahang-anjlok  

Kabarriau.com, Daik Lingga - Petani Sahang (lada/marica) menjerit sebab ongkos penanaman tidak sebanding dengan nilai pemeliharaan dan penjualanan.

Harga komoditas rempah andalan dalam negeri ini di Kepulauan Daik Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) hingga kini (sejak tahun 2018) turun drastis. "Beberapa waktu lalu sempat mencapai Rp 190.000-Rp200.000. Saat ini turun menjadi Rp 53.000-Rp60.000 di tingkat pengumpul," kata petani lada asal Daik Lingga Taufik. 

Banyak petani di Kabupaten dekat perairan Laut Cina Selatan itu meminta pemerintah daerah mencarikan solusi agar persoalan harga tidak menyulitkan kehidupan petani.

"Penyakit kuning lada, pupuk, dan ketersediaan bibit juga masih kendala," tutur Irfan petani lada lainnya.

Sariman, salah satu tokoh warga di Kampung Tengah, Daik Lingga juga mengaku sama, harga lada kini jatuh dan sangat merosot. "Ini menyulitkan petani, beberapa bulan terkahir harga yang dipatok pengumpul sudah tidak sebanding dengan ongkos membuka kebun dan pemeliharaan kebun lada. Bibit, pupuk dan kayu penyangga pohon lada saja sudah tak balik modal," terangnya dikontak ponselnya, Kamis..

Pemkab Lingga belum tergerak hati untuk mengurusi harga lada yang kian merosot di lingkungan petani ini. "Pada hal rempah yang dibutuhkan negara tetangga (Singapura) dan juga diekspor ke pasar eropa cukup potensial dan memiliki nilai tinggi," ungkap Sariman yang pernah bekerja di Laut Luar Negeri ini.

Dia juga menilai, mungkin Pemda fokus pada peningkatan produksi saja. "Memang jika dilihat saat ini meskipun harga turun, tapi produksi banyak, tapi justru nilai jual petani anjlok," kata Sariman.

Menurutnya, persoalan harga sangat ditentukan kondisi pasaran dunia. Di sisi lain, rantai penjualan dari petani ke pengguna lada dinilai masih panjang. "Lada kita masuk hingga ke Eropa. Tapi untuk ke sana banyak singgah sana-sini, jadi ini perlu dipangkas," bebernya. 

Juramadi Esra yang baru menjabat sebagai Sekda Kabupaten Lingga sampai kini belum terlihat untuk melakukan memimpin rapat koordinasi tentang adanya penurunan harga lada dilingkup petani. Bahkan, bisa dipastikan Pemda juga belum koordinasi dengan Kementerian Pertanian dalam penyediaan bibit unggul dan subsidi pupuk. (kbr.hen/*)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :