Kabar Riau - 10 Hari Terakhir Ramadhan untuk Spiritual

Prof Abdul Mujib UIN Syarif Hidayatullah

10 Hari Terakhir Ramadhan untuk Spiritual

Samsul
Share :
10-hari-terakhir-ramadhan-untuk-spiritual

Kabarriau.com, Agama - Prof Abdul Mujib dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah menilai Ramadhan merupakan sekolah rohani, madrasah spiritual. 10 hari terakhir Ramadhan seyogianya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan spiritual.

“Manusia butuh ruang spiritual. Ini disediakan bulan suci Ramadhan. Makanya, kalau sejak awal memasuki Ramadhan dengan cinta, orang akan berharap bahwa semua bulan dalam satu tahun adalah Ramadhan,” kata Prof Abdul Mujib dimuat Republika.co.id, Jumat.

Bulan suci, kata dia menyuguhkan menu kepada orang-orang beriman. Mereka yang membutuhkan ketentraman jiwa akan semakin giat dalam menuntaskan menu-menu ibadah, baik itu wajib maupun sunah. Terlebih lagi sepanjang 10 hari terakhir Ramadhan.

“Itulah mengapa orang merasakan kebahagiaan batin yang selama ini mungkin tidak diperolehnya selama bulan-bulan biasa. Di bulan Ramadhan ini, dia mendapatkan nuansa spiritual yang luar biasa. Makanya, ada istilah bahwa Ramadhan merupakan sekolah rohani, madrasah spiritual,” ujar penulis buku Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Islam (2017) ini.

Kebahagiaan yang sejati dapat diperoleh melalui upaya-upaya menyempurnakan kualitas ibadah, terutama di 10 hari terakhir Ramadhan. Abdul Mujib mengungkapkan, kebahagiaan spiritual masih lebih baik daripada kebahagiaan materiil karena tidak dibatasi ruang dan waktu.

Sebagai contoh, kebahagiaan yang diperoleh dari menikmati sajian-sajian yang enak. Perasaan ini menemukan batasnya di perut. Seseorang yang sudah kenyang akan menolak makanan enak yang disuguhkan kepadanya karena kemampuan perutnya terbatas. Kalau pun terus dipaksa, orang ini mungkin akan muntah, jatuh sakit, dan karenanya menjadi tidak bahagia lagi.

Adapun daya tampung kebahagiaan spiritual tidak berhingga. Karena itu, seorang Muslim yang sering melaksanakan ibadah akan merasa semakin tenteram batinnya dan berbahagia. Hal itu karena ibadahnya diniatkan tanpa pamrih. Dasarnya semata-mata merindukan Allah SWT. “Sehingga memancarkan apa yang diistilahkan aura spiritual,” tutup dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah tersebut.


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :