Kabar Riau - 'Tanjak' Tradisional Melayu Perlu Digaungkan

'Tanjak' Tradisional Melayu Perlu Digaungkan

Roni
Share :
tanjak-tradisional-melayu-perlu-digaungkan

Kabarriau.com, Seni Budaya - Bungsu Amin, Panglima Bungsu Laskar Boedak Melayu Nusantara menyatakan, Tanjak perlu digaungkan di Pekanbaru, Riau. 

Dalam budaya nusantara, kata dia sangat banyak pakaian adat yang menggunakan ikat atau penutup kepala pada pakaian prianya. Seperti Suku Jawa dengan “Blangkon”. Suku Sunda biasa disebut “Toopong, Sudeng atau Iket”. Begitu juga pada masyarakat Bali pada suku Sasak di Lombok juga mengenal ikat kepala dengan nama ”Capuk“, Begitu juga dengan suku Baduy juga menggunakan ikat kepala sejenisnya.

"Tanjak sejenis alas kepala tradisional Melayu yang dipakai oleh golongan lelaki yang perlu digaungkan atau dibuat Perda nya di Kota Bertuah ini," katanya.

Menurutnya, Tanjak perlu dibuat dua bentuk, misalnya yang pemakaiannya yang harian dan pemakaian yang resmi."Jika seluruh pegawai (lelaki) memakai Tanjak alangkah indahnya, maka setidaknya selain budaya Melayu terlihat jelas juga bisa menjadi industri lokal," terangnya, Minggu malam (6/5/2018).

Tanjak bisa dibuat dengan menggunakan kain songket atau kain tenun panjang yang dilipat-lipat dan diikat dalam gaya (solek) yang tertentu. Pada zaman sekarang, tanjak lebih banyak dipakai dalam acara-acara yang kental adat istiadat, seperti resepsi pernikahan pada masyarakat melayu yang kenakan oleh pengantin laki-laki.

"Pada masa kerabat Raja ataupun Sultan dan para hadirin dalam majelis istiadat kerajaan, dan oleh pengantin lelaki ketika dalam majelis perkahwinan, Tanjak sering digunakan," jelasnya..

Lalu Bungsu Amin menceritakan, Tanjak berawal pada zaman Kesultanan Melayu Melaka. Sebelum zaman itu, sudah menjadi kewajiban rakyat jelata untuk menutup kepala atau mengikat rambut panjang supaya kelihatan kemas atau rapi ketika menghadap Raja.

"Seiring berjalanya waktu Ikatan kain ini lama-kelamaan makin lama makin cantik mengikut perkembangan zaman, tanjak ini banyak dimodifikasi atau diubah sesui mengikut selera pemakainya," ujarnya.

Ada tanjak yang cukup umum dan populer di masyarakat melayu seperti tanjak Suluk/solok Timbo berasal dari negeri sembilan. Dipakai oleh pegawai atau petinggi kerajaan. Tanjak yang satu ini sangat banyak peminatnya pada masyarakat melayu khususnya masyarakat melayu Dumai-Riau.

Cara memakai pun bisa dilakukan yaitu pertama dilipat dan kedua disimpul. Menurutnya, Tanjak membuktikan identitas suatu budaya, begitu banyak suku di nusantara ini menggunakanya dengan bentuk dan nama yang berbeda beda. "Itu semua untuk menunjukan identitas budaya dan adat. Sebagai warga negara yang berbangsa dan berbudaya, kita perlu lestarikan Tanjak ini dengan menunjukan pembuatan dan penggunaan tanjak yang benar sesuai kaidah budaya serta adat-istiadat kita," ungkapnya..(kbr.s/***)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :