Kabar Riau - 'Genderang' Pilgubri Telah Dimulai

'Genderang' Pilgubri Telah Dimulai

Samsul
Share :
genderang-pilgubri-telah-dimulai

Kabarriau.com, Politik - Genderang tanda dimulainya Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri) 2018 sudah ditabuh, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau sudah menetapkan nomor urut pasangan calon kepala daerah yang akan bertarung memperebutkan kursi Gubernur untuk di 12 Kabupaten/Kota.

"Tentunya tidak mengesampingkan 12 daerah yang menjadi perhatian publik dan partai politik tentunya agar bisa memenangkan pertarungan," kata H Darmawi Aris SE, Lembaga Melayu Riau (LMR) menyikapinya belum lama ini.

Penetapan nomor urut merupakan menjadi titik start para kandidat Pilgub Riau, diantara empat nama Calon, Pasangan ini yakni, Syamsuar – Edi Natar, Lukman Edi – Hardianto, Firdaus – Rusli Efendi, Arsyadjuliandi Rahman – Suyatno. Mesin-mesin parpol mereka akan digerakkan dengan massif yang nyata untuk melakukan kerja-kerja pemenangan.  "Pada penetapan kemarin, boleh dibilang pertarungan sesungguhnya sudah dimulai. Mereka  mulai bergerak secara real ke masyarakat," kata Darmawi.

Boleh dibilang, sebutnya hanya ajang pemanasan dan streching bagi masing-masing kandidat. Apalagi mereka hanya disibukkan untuk menyusun strategi, dan selama masa kampanye akan jadi ajang pengaplikasian strategi itu.  "Mesin politik akan digenjot. Semua jaringan sampai ke grassroot," tutur putera Bengkalis ini. 

Khusus di pemilihan Gubernur Riau, Darmawi menilai, pertarungan begitu ketat. Baik yang didukung oleh partai politik (parpol) gemuk maupun yang minim parpol. Kedua sisi pendukung dari Paslon ini menurutnya sama-sama memiliki plus - minus. 

"Yang didukung parpol akan lebih diuntungkan jika mesin parpol bekerja efektif membantu calonnya. Efektif disini, tidak hanya elit yang bekerja tapi juga sampai ke tataran grassroot (kecamatan dan desa)," kata dia. 

Tataran di Grassroot bisa memerankan peran opinion leader, atau pembuka pendapat. Sementara, elit partai hanya berperan sebagai pengumpul massa. "Kampanye di kelompok kecil lebih efektif. Pemuka pendapat lebih dihargai," bebernya. 

Meski punya keuntungan, bukan berarti kandidat yang disokong oleh banyak partai tidak memiliki kekurangan. Di dalam tim paslon yang didukung parpol gemuk, ada banyak kepentingan yang musti diakomodasi. "Mereka saling berharap, sehingga kerjanya tidak efektif, apalagi jika ada calon yang menganak-emaskan partai tertentu untuk bekerja partai politiknya, dan menjadikan partai lain sebelah mata," sebutnya.

Sementara, pada paslon yang hanya didukung oleh minim parpol diuntungkan dengan sedikitnya kepentingan yang ada di dalam tubuh partai, sehingga potensi konflik internal sangat kurang.  "Yang sedikit itu biasanya lebih solid. Karena ada kecendrungan untuk membuktikan dirinya. Lebih kuat bekerja, hanya saja, kelemahannya karena itu tidak merata," pada penilaiannya. (kbr.s/***)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :