Kabar Riau - Usai Mars, NASA Terbang ke Matahari

Usai Mars, NASA Terbang ke Matahari

Samsul
Share :
usai-mars-nasa-terbang-ke-matahari

Kabarriau.com, Thecnologi - Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA didirikan pada 1958, badan antariksa ini dikenal dengan proyek yang ambisius dan berani.

Mulai dari teleskop Hubble yang bisa mengorbit di Bumi dan mendeteksi bintang serta exoplanet, pesawat luar angkasa yang bisa mencapai sejumlah planet di tata surya seperti Voyager dan Juno, hingga program pendaratan di Bulan, Apollo. Semuanya direalisasikan dalam waktu puluhan tahun.

Beberapa hari lalu, pihak NASA memamerkan pesawat antariksa terbaru yang sedang dalam proses pengembangan di Goddard Space Flight Center, Maryland, AS. Terlihat di sisi samping panel itu terdapat kotak elektronik, tangki pendorong, serta instrumen untuk mengukur kutub magnet Matahari dan mengambil foto atmosfer. Sementara pelindung panasnya ditutup di kontainer terpisah, lengkap dengan tulisan merah yang salah satunya berbunyi, “DO NOT EXPOSE TO DIRECT SUNLIGHT”.

Mengutip situs Washington Post, teknisi NASA Curtis Wilkerson mengatakan, pada musim panas tahun ini, pesawat yang dinamakan Parker Solar Probe itu akan diluncurkan ke dekat atmosfer Matahari dalam kecepatan 724 ribu kilometer per jam. Kecepatan itu disamakan dengan penerbangan dari Washington menuju New York dalam waktu satu detik saja.

Kabarnya, Parker Solar Probe bakal terbang di jarak 6,4 juta kilometer dari permukaan Matahari, jarak yang diklaim paling dekat tujuh kali lipat dari pesawat antariksa manapun yang pernah mendekati Matahari.

Pihak NASA menjelaskan, pelindung panas Parker Solar Probe tidak hanya akan menerjang sinar Matahari, instrumen itu juga harus menahan letupan api yang panasnya bisa mencapai 1.426 derajat Celsius.

Setelah 60 tahun perkembangan sains dan teknologi yang ada di NASA, Parker Solar Probe dielu-elukan sebagai pesawat antariksa yang siap mengamati Matahari, serta memantau perilakunya yang kemungkinan mempengaruhi manusia di Bumi.

“Akhirnya, kita akan menyentuh Matahari,” ujar ilmuwan dari proyek misi Parker Solar Probe, Nicola Fox.

Ahli fisika dan investigator yang mengelola Parker Solar Probe, Eric Christian, turut menambahkan, pesawat antariksa ini juga akan diberi tugas untuk menginvestigasi dua misteri tentang sang surya. Pertama, mengapa atmosfer Matahari lebih panas dari permukaannya? Kedua, seberapa tinggi energi dari partikel yang melesat keluar dari korona menuju luar angkasa?

“Ini adalah pertanyaan yang ingin kami jawab dari jarak 149 juta kilometer,” ucap Christian. “Namun faktanya adalah, kita harus pergi ke lokasi langsung supaya benar-benar mengerti apa sebenarnya yang terjadi di sana.”

Pihak NASA juga meyakini, jawaban yang akan diperoleh oleh Parker Solar Probe akan relevan dengan kehidupan di Bumi. Gangguan di atmosfer Matahari dapat menciptakan ledakan besar dari gas ion (coronal mass ejection/CME) dan ledakan radiasi itu dinamakan solar flare.

Nah, ketika CME berinteraksi dengan magnetosfer Bumi, ia menyebabkan aliran listrik yang bisa saja bergerak melalui permukaan Bumi dan memutuskan jaringan listrik. Sementara solar flare dapat mengganggu komunikasi radio dan mengakibatkan radiasi yang mematikan bagi astronaut.

“Orang-orang itu lupa, bahwa Matahari adalah bintang yang sifatnya bisa berubah-ubah,” ungkap Christian. “Ia sangat dinamis, dan akhirnya kita mampu terbang menuju Matahari.”


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :