Kabar Riau - Indah Kiat 'Tangkal' Kepunahan Labi-labi

Indah Kiat 'Tangkal' Kepunahan Labi-labi

Pimred
Share :
indah-kiat-tangkal-kepunahan-labilabi

Kabarriau.com, Pekanbaru - Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Kemal Amsi MSc melalui Humas, Zaidir menyatakan, pemerintah daerah mendorong sebuah lembaga swadaya masyarakat (lsm) Siak Cerdas bersama PT Indah Kiat melakukan penangkaran binatang sejenis kura-kura di Kabupaten Siak, Riau.

Zaidir mengaku hewan itu sudah terancam punah dan populasi labi-labi diperlukan suatu upaya pengelolaan untuk mempertahankan kelestarian maupun kelangsungan hidupnya. "Kerjasama melakukan penangkaran sudah dilakukan khususnya di Kawasan GSK-BB," kata dia pada wartawan, Rabu. 

Konservasi melalui penangkaran labi-labi bisa dikolaborasikan dengan unsur pemberdayaan masyarakat. "Pemilihan jenis satwa ini bukan hanya memiliki keuntungan dari nilai konservasinya saja, namun juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar kawasan Giam Siak Kecil-Bukit Batu," urainya.

Melalui program ujicoba pemijahan dan pembesaran labi-labi lokal oleh PT  Arara Abadi (group perusahaan Indah Kiat) berkerjasama dengan LSM Siak Cerdas sudah berjalan dari tahun 2010 hingga sekarang.

Namun Hidayat, LSM Siak Cerdas dalam pengakuannya menjelaskan, kerjasama perusahaan dengan lsm membantu menyediakan sebidang lahan sebagai tempat penangkaran di area Research and Development,  Perawang, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau dan pengadaan indukan labi-labi.  

"Lokasinya sekitar 75 Kilometer dari pusat Kota Pekanbaru dan 90 Kilometer dari Siak. Ujicoba penangkaran labi-labi menunjukan kemajuan yang cukup baik terutama meningkatnya jumlah indukan yang bertelur dan menetas menjadi anakan/tukik labi-labi. Tukik labi-labi hasil penangkaran akan dilepaskan kehabitat aslinya untuk dilakukan restoking," ungkapnya. 

Armadi, Humas Indah Kiat mengaku kegiatan penangkaran dapat memberi informasi kepada masyarakat tentang potensi labi-labi jika dibudidayakan tanpa merusak keberadaannya di alam. Penangkaran ini juga terbuka untuk semua warga yang ingin belajar cara membudidayakan labi-labi.

Namun informasinya permintaan pasar terhadap labi-labi dari Provinsi Riau terus meningkat, baik permintaan lokal maupun dari Medan dan Jakarta, begitupun permintaan ekspor. Armadi mengaku, umumnya binatang yang ditangkar merupakan jenis labi-labi hutan (Dogania subplana) yang juga dikenal dengan sebutan bulus.

Data di BKSDA menunjukkan, Provinsi Riau hanya tercatat 4 jenis labi-labi, yaitu Amyda cartilaginea, Pelochelys cantori, Chitra chitra dan Dogania subplana berada dalam Kawasan Giak Siam Kecil Bukit Batu (GSKBB). Ironisnya, status dari labi-labi (Amyda cartilaginea) di alam yaitu rawan menurut IUCN 2006 perburuan. (kbr.s/***)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :