Kabar Riau - Populasi Harimau Sumatera di TNTN Menyusut

Populasi Harimau Sumatera di TNTN Menyusut

Pimred
Share :
populasi-harimau-sumatera-di-tntn-menyusut

Kabarriau.com, Pekanbaru - Supartono SHut MP, Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan, Kamis (7/12/2017) membenarkan populasi harimau Sumatera yang ada di TNTN kini menuyusut jumlahnya.

"TNTN sebelumnya dikenal adalah rumah bagi harimau Sumatera, tapi sekarang jumlahnya menyusut drastis dari jumlah seluruh harimau yang ada di Riau yang masih tersisa di alam liar. Dalam empat tahun terakhir populasi harimau di TNTN memprihatinkan," kata dia yang mengaku sedang berada di luar Provinsi Riau dikontak ponselnya.

Namun sebelumnya disebutkan Supartono dalam bincang-bincangnya di Cafe Too didepan Kabarriau.com dan Detak Indonesia.co.id menerangkan, harimau adalah simbol kelestarian ekosistem. Keberadaan harimau sumatera hanya dimungkinkan jika hutan dan lingkungan sebagai habitatnya terjaga. "Harimau memiliki daya jelajah yang sangat luas hingga 300 km2," ungkapnya.

Dia turut prihatin menyinggung populasi satwa liar yang satu ini.  Fakta di lapangan, kata Supartono, tak menunjukkan kebanggaan. Menurutnya, jumlah harimau sumatera dewasa di alam TNTN berkisar hanya tersisa dua atau tiga ekor saja.  

Menurutnya lagi, keberadaan harimau mampu menyeimbangkan jumlah populasi herbivora dan omnivora yang menjadi mangsanya. Ditanya, langkah apa akan dilakukan, Supartono menjawab justru langkah pemerintah dengan memiliki Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) belum mampu menyelamatkan harimau sumatera dari ancaman kepunahan.

Persoalan yang masih menghantui bahwa, nasib harimau sumatera masih terancam adanya perburuan dan perdagangan ilegal, serta konflik antara manusia-harimau sebagai akibat berkurangnya habitat dan jumlah satwa mangsa (diburu), lantas Supartono hanya menganguk-angguk mendengar perkembangan informasi itu. Dia menyadari peningkatan jumlah populasi harimau adalah keberhasilan besar sebagai buah dari usaha konservasi terus menerus dilakukan.

Supartono mengaku kalau saat ini TNTN  menghadapi krisis menurunnya jumlah kucing besar ini ketika jumlah harimau menyusut drastis, "sebuah penurunan sangat tajam karena pada awal-awalnya TNTN boleh dibilang masih bagus yang menjadikan sebagai tempat hunian alam liar di Pelalawan," ujarnya.

Perburuan ilegal, hilangnya tutupan hutan dan booming pasar internasional untuk perdagangan organ tubuh harimau selundupan telah memberikan tekanan terhadap penurunan tajam populasi harimau di Riau. Menyikapi ini Supartono menambahkan harimau biasanya dapat ditemukan di alam liar, dan pemerintah sampai saat ini masih cukup baik dalam hal perlindungan satwa walaupun saat ini justru jumlahnya memang diakui terus menurun tersebut.

"Mungkin masalah ini ketidak berhasilan meningkatkan populasi harimau ini dipercaya sebagai buah dari manajemen yang kurang baik dan perlindungan cagar alam untuk harimau dan kawasan hutan lindung lainnya yang terus terusik," diakuinya.

Harimau Marak Keluar Hutan

Puluhan hektar hutan habitat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) terus terbabat habis bahkan tidak sedikit terbakar di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. Tekanan kepada “rumah” satwa liar yang dilindungi menyebabkan sejumlah harimau muncul di perkampungan warga.

"Kita sudah melakukan sosialisasi penyelamatan Tesso Nilo di hadapan masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga, Pelalawan belum lama ini," kata Supartono.

Sosialisasi untuk membangkitkan kembali budaya masyarakat Melayu di dekat Taman Nasional Tesso Nilo. "Kita juga sudah melakukan gelar acara puncak Festival Tesso Nilo 2017 di bulan Agustus 2017 kemarin dengan tema penyelamatan budaya, selamatkan alam," ujarnya.

Meskipun secara tidak langsung Supartono ingin menyampaikan, kalau sebagaian wilayah lahan TNTN yang berubah menjadi semak belukar dan sebagian ditanami bibit sawit. Menurut Supartono lagi langkah pemerinta pada tahun ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menetapkan TNTN sebagai salah satu proyek revitalisasi fungsi kawasan dan penegakan hukum. "Ini langkah penting yang sedang dilakukan," ucapnya.

Mungutip seperti disebutkan Febri Widodo, riset dan monitoring harimau dan gajah untuk WWF Central Sumatera kepada wartawan mengatakan, banyaknya kejadian harimau muncul ke pemukiman warga karena aktivitas di hutan meningkat. "Kegiatan itu bisa berupa pembalakan liar, kebakaran hutan dan lain-lain," ujarnya. (kbr.s/***)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :