Kabar Riau - 'Seratus Gajah' Hidup Berkeliaran di TNTN

'Seratus Gajah' Hidup Berkeliaran di TNTN

Pimred
Share :
seratus-gajah-hidup-berkeliaran-di-tntn

Kabarriau.com, Pekanbaru - Supartono SHut MP, Kepala Balai Taman Nasional  Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan menyatakan, TNTN yang dilindungi negara memiliki luas 83 ribu hektar yang terdiri dari zona inti yang merupakan tempat habitan gajah Sumatera dan harimau Sumatera.

Ada juga zona peyangga yang merupakan hutan lindung. TNTN terbentang dari Kabupaten Indragiri Hulu hingga Kabupaten Pelalawan. "Setiap tahun, populasi gajah Sumatera di TNTN mengalami peningkatan, kini jumlahnya ada 100 ekor. Namun banyak media ikut mengkritik, untuk mewaspadai adanya perburuan liar," kata Supartono menyikapinya dalam bincang-bincang di Cafe Too dibilangan Jalan Arifin Achmad kemarin didepan Kabarriau.com dan Detak Indonesia.co.id.

Sementara para pemerhati lingkungan di Riau mengatakan populasi gajah Sumatera semakin anjlok, menurut Balai Taman Nasional Tesso Nilo ini pada 2017 masih terdapat 100 ekor gajah liar di TNTN dan sejumlah 8 ekor yang dipelihara, kelompok aktivis lingkungan menemukan ada beberapa kasus gajah liar yang hidup mengenaskan oleh banyak kepentingan pembukaan lahan kebun sawit, sehingga memungkinkan ruang gerak satwa liar menyempit. Supartono tidak memungkirinya.

"Bahkan tidak jarang adanya gajah berkeliaran di permukiman, namun kami berhasil menggiring ke Taman Nasional Tesso Nilo, yang selama ini berkeliaran dikembalikan ke habitatnya," sebutnya.

Gajah, kata dia, dikategorikan dalam Akta Spesies yang dilindungi dan ada pasal dalam hukum yang tidak mengizinkan impor hasil buruan satwa liar ini, Supartono mengatakan kepada media ia mendukung larangan itu dan pejabat di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengklaim bahwa langkah itu akan "meningkatkan bertahannya spesies itu di alam liar."

"Terkait dukungan kelestarian hutan beserta isinya kita juga ingin menjalankan berbagai program untuk melibatkan media serta photografer agar TNTN semakin berkembang dan terjaga. Program yang dijalankan nanti tentu dapat menguntungkan konservasi sejumlah spesies dengan memberikan insentif kepada komunitas lokal untuk menjaga spesies dan memberikan anggaran yang sangat diperlukan untuk konservasi," ujar Supartono.

Para pejabat baik di Balai Taman Nasional Tesso Nilo akan mengumumkan berbagai perlombaan dalam forum yang akan diorganisir WWF sebuah lembaga swadaya masyarakat Club Internasional yang pro melindungi satwa liar. 

"Kita sarankan agar masalah gajah maupun satwa liar lainnya seperti harimau Sumatera ada di lingkungan hutan mendapat dukungan dari pemerintah setempat, termasuk dalam bidang finansial, agar konservasi dapat berkelanjutan," kata Supartono.

Supartono mengaku, populasi gajah Sumatera habitatnya juga terus menyusut karena pembangunan jalan, perumahan dan perkebunan. "Jumlah populasi gajah paling banyak di TNTN ini hanya sekitar 100 ekor, mereka terisolasi. Tapi ini juga susah," tambah Supartono.

Dia tidak memungkiri, satwa liar gajah Sumatera menghadapi berbagai ancaman dan ini perlu upaya bersama untuk menjamin kelangsungan hidup binatang ini. (kbr.s/***)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :