Kabar Riau - Madu Sialang Andalan Masyarakat Melayu Petalangan

Madu Sialang Andalan Masyarakat Melayu Petalangan

Pimred
Share :
madu-sialang-andalan-masyarakat-melayu-petalangan

Kabarriau.com, Seni Budaya - Kelompok masyarakat adat Melayu Petalangan di Pelalawan, Riau mentaati hukum-hukum adat setempat dan memuliakan alam sekitarnya.

Hukum adat orang Petalangan mengenal tiga jenis kepungan atau hutan adat. Pertama, rimba peladangan, sebagai tempat bercocok tanam. Lalu, rimba simpanan, hutan penghasil kayu dan lainnya. Atas seizin kepala suku, mereka bisa memanfaatkan kekayaan alam ini. Syaratnya: tebas tidak merusak, tebang tidak membinasakan. Terakhir, rimba kepungan sialang, hutan yang ditumbuhi pohon sialang tempat bersarangnya lebah penghasil madu, jelas Supartono S.Hut, M.P, Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo Pelalawan dalam bincang-bincangnya di Cafe Too mengajak kopi bersama media Kabarriau.com dan Detak Indonesia.co.id belum lama ini.

Budaya masyarakat Melayu Petalangan Pelalawan, setiap kepungan dimiliki, dikelola dan dimanfaatkan oleh suku berbeda. Hasil menumbai madu Sialang diberikan tetua masyarakat sebagai pemanen madu sebanyak 40%, suku pengelola hutan 40%, dan kepala suku, pemuka adat serta tukang sambut 20%.

Bahkan informasi yang berkembag ditengah masyarakat Pelalawan, jika sang juagan berasal dari suku pengelola rimba, jatahnya 20% saja. Sementara suku pemilik rimba kebagian 60%. Kelompok terakhir persentasenya sama, 20%. 

Posisi sang juagan atau dukun lebah ini tampaknya memang sangat penting. Selain sebagai ketua kelompok, ia juga bertanggungjawab atas kesuksesan seluruh kegiatan menumbai madu sialang. Makanya sang juagan harus punya banyak kelebihan.

Sang juagan harus bisa berkomunikasi dengan lebah, atau dengan makhluk lain penghuni hutan. Caranya, sepanjang proses menumbai madu ia merapalkan mantra dan doa tak henti-henti. Ketika di pangkal (banir) pohon sialang yang diameternya bisa lebih dari semester contohnya, ia bermohon keselamatan pada Yang Kuasa, sekalian minta ijin pada lebah untuk mengambil madunya.

Jika lebah sudah berbunyi, itu pertanda para pemanjat atau juagan mudo sudah diijinkan naik ke pohon sialang yang tingginya mencapai puluhan meter, sambil membawa obor (tunam) dari sabut kelapa yang menyala-nyala, serta wadah penampung madu (timbo).

Para pemanjat terus merangsek mendekati sarang lebah madu. Pada jarak yang tepat, mereka mengibaskan tunam beberapa kali, sebelum kemudian menjatuhkannya ke tanah. Seketika, kawanan lebah menyerbu nyala api yang meluncur ke dasar.

Pada saat inilah, dengat cekatan para juagan mudo menumbai madu sialang secepat-cepatnya ke dalam timbo, dan segera pula memberikannya kepada tukang sambut yang menunggu di bawah.

Sampai para pemanjat turun semuanya, juagan tuo terus-menerus membacakan doanya hingga bagian pamungkas. Kurang lebih isinya, “Kiranya di tahun-tahun mendatang lebah-lebah yang bersarang di pohon sialang akan terus menghasilkan madu yang lebih banyak dan lebih manis.”

Sampai di sini, selesailah sudah prosesi menumbai madu sialang yang dilakukan pada malam hari, sehingga lebah tak cepat mati dan tidak berhenti memproduksi madu.

Namun seperti disebutkan Supartono yang mengakui telah lama menyikapi dan melihat proses pengambilan madu Sialang ini menyebutkan, saat ini luasan rimba kepungan sialang terus menciut sehingga hasil madunya juga makin menurun.

"Kualitas madu Sialang bening dan manis..Tapi tak dipungkiri saat ini telah di nobatkan sebagai menumbai madu sialang Petalangan sebagai warisan budaya takbenda," katanya.

Menurutnya, madu dari pohon Sialang sebagai alternatif pendapatan masyarakat di sekitar hutan Tesso Nilo. Misalnya, madu sialang di Logas Tanah Darat merupakan satu sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar hutan meskipun potensi ini belum memberikan kontribusi yang besar bagi perkonomian masyarakat di Kecamatan Logas Tanah Darat.

"Potensi tersebut sangat tergantung kepada kondisi hutan di sana, dimana diantaranya merupakan habitat pohon sialang yang merupakan pohon tempat bersarangnya lebah madu hutan," ungkapnya.

Salah satu upaya melestarikan pohon sialang tersebut adalah melakukan pendataan keberadaan dan sebaran pohon sialang di kawasan tersebut. Masyarakat di Logas Tanah Darat telah melakukan upaya tersebut yang kemudian dilanjutkan dengan rencana pengelolaan pohon sialang. Antara lain dengan membuat aturan adat mengenai pengelolaan hutan yang berkaitan dengan keberadaan pohon sialang dan pengaturan pemanenan madu.

Dia mengaku pohon sialang berdampak kepada produksi madu hutan yang merupakan kegiatan ekonomi masyarakat yang sudah berljalan secara turun temurun. Untuk menghindari kerugian tersebut rambu-rambu larangan menebang untuk pohon yang sudah disarangi oleh lebah tetap diberi sanksi.

Untuk mengetahui potensi madu sialang ini dan guna membantu mempercepat laju perekonomian Kecamatan Logas Tanah Darat, WWF Indonesia memfasilitasi registrasi pohon sialang yang terdapat di Logas. Inventarisasi dilakukan dari 8 Oktober 2003 sampai 14 Nopember 2003, dilaksanakan di 4 wilayah ulayat persukuan; Mandailing, Piliang, Melayu dan Kampung Salapan.

Konon wilayah masyarakat adat Logas Tanah Darat penyebaran pohon Sialang terdapat di hutan perlandangan (Hutan Getah/karet), hutan akasia (HTI PT. RAPP), hutan alam (HPH PT. Hutani Sola Lestari dan HPH Nanjak Makmur). Pohon sialang ini batangnya dibersihkan oleh masyarakat menurut sukunya. Untuk memudahkan mengambil madu sialang yang 99 % dijual, dipasaran harganya berkisar Rp. 7000/Kg.

Di Kecamatan Logas Tanah Darat madu ini potensial untuk dikembangkan, dengan bahan baku yang cukup dengan masa panen 2 kali dalam 1 tahun. Untuk meningkatkan hasil yang diperoleh dari madu ini, tanggal 15 September 2003, dibentuk kelompok usaha "SIALANG LESTARI", dengan harapan kelompok ini menjadi andalan masyarakat petani madu untuk meningkatkan penghasilannya.

Peluang pasarnya pun dapat dijajahi dan beberapa permintaan distributor madu dibeberapa daerah seperti Pekanbaru, Batam, Jakarta, Medan bahkan hingga negara tetangga Malaysia. (kbr.s/***)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :