Kabar Riau - Mantan Menteri PDT 'Hajar' Gubernur Rau

Ekonomi Terpuruk

Mantan Menteri PDT 'Hajar' Gubernur Rau

Pimred
Share :
mantan-menteri-pdt-hajar-gubernur-rau

Pekanbaru, Kabarriau.com - Kepemimpinan Gubernur Riau (Gubri) Arsyadjuliandi Rachman selama empat tahun terakhir dikritisi Lukman Edy, Bakal Calon (Balon) Gubernur Riau 2018-2013.

Dalam acara diskusi Lukman Edy yang memiliki slogan pada pencalonannya yakni 'Riau Bangkit', Jumat malam (8/9/2017) di Sumatera Cafe Jalan Arifin Ahmad Pekanbaru itu mengakui keterpurukan ekonomi juga melanda Riau.

"Hampir semua indikator-indikator keberhasilan pembangunan Riau itu terpuruk atau dalam bahasa lebih lugas Riau itu hari ini terpuruk. Ini bukan kata saya, kita kumpulkan searching semua indikator-indikator pembangunan sebuah daerah, angkanya mengecewakan semua," ungkap Lukman.

Dia mencontohkan pertumbuhan ekonomi Riau yang 2,2 persen bukan angka yang sederhana tidak dilihat sebagai angka yang mati, yang ini adalah angka yang faktual yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Bahkan lebih rendah lagi kalau mau dilihat angka pertumbuhan ekonomi berdasarkan analisis dari Bank Indonesia (BI). BPS itu cukup moderat untuk membikin angka-angka dan BI itu cukup faktual," terangnya.

Menurut Lukman Edy yang juga anggota DPR RI ini menyikapi pertumbuhan ekonomi 2,2 persen itu sudah dipastikan mengganggu indikator-indikator lain salah satunya misalnya angka kemiskinan, angka pengangguran, GP Rasio, itu semua terganggu.

"Tak mungkin pertumbuhannya kecil kemudian angka kemiskinan mengecil, itu tak mungkin. Dalam catatan saya memperhatikan perkembangan-perkembangan media hanya satu yang bagus di rezim sekarang ini (Arsyadjuliandi Rachman, red) yaitu soal tertib administrasi keuangan. Mungkin karena uangnya tidak banyak dipakai jadi tidak terlalu rumit bikin laporannya gitu kan," jelas Lukman Edy.

Pemerintah ini tugasnya bukan hanya untuk menertibkan laporan tapi juga mensejahterkan rakyat melalui intervensi-intervensi pemerintah, intervensi APBD, itulah gunanya APBD, urainya.

Bappenas merilis bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) Riau ini paling bobrok. Kemudian ICW merilis 5 provinsi paling korup. Indeks infrastruktur Riau juga terpuruk memang faktanya dirasakan masyarakat Riau hari ini. Banyak jalan-jalan berlubang, tidak ada jalan baru yang dibangun, susah mencari kerja. Duit tidak turun ke masyarakat tiga tahun terakhir ini, pekerjaan tidak ada, proyek tidak jelas kemudian tenaga kerja mau kerjakan apa serba bingung. Dunia usaha juga mandeg infrastruktur tidak terbangun. Jadi semua saling berkait dipaparkannya.

Lukman Edy melihat sumber data manusia, sumber daya alam Riau melimpah, posisi strategis, kampus-kampus kita menjadi sorotan, kampus-kampus besar Universitas Islam Negeri, Universitas Riau semua memiliki unggulan tapi tidak digunakan maksimal untuk menjaga pertumbuhan Riau.

"Secara teori ekonomi teori matematik setelah dibedah angka 2,2 persen pertumbuhan Riau itu, Riau bisa punya uang setiap tahunnya Rp4 triliun sebenarnya Riau bisa menjaga pertumbuhan 6 persen tanpa Gubernur Riau nya bekerja keras, tanpa bupati, wali kota bekerja dengan keras," terangnya.

Setiap Rp1 triliun bisa mempertahankan pertumbuhan 1 persen. Kalau Rp4 triliun sisa uang Riau ini artinya ada potensi 4 persen yang loss kehilangan momentum kita untuk mempertahankan pertumbuhan 4 persen dengan uang Rp4 triliun ini. Totalnya 6,2 persen yaitu 2,2 persen tambah 4 persen sama dengan 6,2 persen dan inilah yang terjadi pertumbuhan pada lima sepuluh tahun lalu, jelasnya.

Tepat atau tidak tepat perencanaan pembangunan Riau, tapi Riau bisa mempertahankan angka pertumbuhan di angka 6 persen. Masih di atas pertumbuhan Nasional. Sekarang kan tidak, ternyata 2 persen itu disumbangkan oleh konsumsi masyarakat Riau, masyarakat mengeluarkan tabungan bagi yang punya tabungan.

"Jika sudah terpuruk begini, masyarakat Riau harus melakukan perubahan, mau mengembalikan riuh rendahnya pembangunan Riau ini mau tidak mau ganti pemerintahan ini. Tidak bisa kita teruskan," ajaknya.

"Kira-kira apa yang bisa kita andalkan dari kepemimpinan Riau sekarang ini (Andi Rahman, red). Apa yang bisa kita andalkan, Satu poin, dua poin, tiga poin tolong dikasih tahu," tegas Lukman Edy.

Menurutnya, pemerintahan Riau lesu tidak melakukan apa-apa, tidak berbuat apa-apa. "Kalau menurut saya dengan kepemimpinan Gubernur Riau sekarang ini, lebih baik kita cari gubenrur bodoh sekalian," sebutnya menggumam.

Marilah kita keluar dari keterpurukan selama hampir 4 tahun belakangan ini. Jadi dengan adanya pemeritahan, efektif itu terjawab di sini, "saya terpanggil untuk mencalonkan diri pada 2018 di Riau agar kita keluar dari keterpurukan," ujarnya.

Dia juga ikut pusing jika Andi Rachman ditambah 5 tahun lagi memerintah, "Tidak tahulah mau jadi apa Riau ini nanti. Empat tahun belakangan ini saja masyarakat sudah merasakan implikasinya banyak pengangguran, bansos tidak muncul untuk membantu adik-adik mahasiswa misalnya. Sekolah-sekolah tidak dibantu, hidup sendiri tanpa ada fasilitas pemerintah sehingga tidak ada dinamika di tengah masyarakat memperbaiki kualitas hidupnya<' ungkap Lukman. 

Lukman Edy juga yakin jika bicara detail lainnya misalnya soal ketahanan pangan pertanian, pariwisata, ketahanan perikanan darat dan laut, membantu nelayan, rumah layak huni, dan lain-lain selama empat tahun belakangan ini tidak jalan semua.

Ruang kelas baru, kita tidur panjang, ini harus dibangun harus bangkit dengan segala upaya yang dimilik mengejar ketertinggalan 3 tahun belakangan ini. kalau tertinggal 3 tahun masih bisalah dikejar tapi kalau tertinggal 10 tahun, warning buat kita semua.

Apa yang dirasakan kawan-kawan media turut merasakan susah dan garingnya hidup ini juga apa yang dirasakan oleh rakyat Riau sekarang ini. "Yang collaps ya mulai lah collaps, yang bertahan apa adanya bertahanlah apa adanya. Itu juga bagian dari pertumbuhan ekonomi yang kecil, tidak jalannya pekerjaan-pekerjaan proyek atau program pembangunan akibat kepemimpinan yang lemah. Kita harus bangkit, dengan alasan itu saya akan maju di Riau ini," kata Lukman Edy. (s/***)

 


 


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :