Kabar Riau - 'Lonte Bebas di Pekanbaru'

'Lonte Bebas di Pekanbaru'

Roni
Share :
lonte-bebas-di-pekanbaru

Pekanbaru, Kabarriau.com - Pekerja Seks Komersial (PSK) lazimnya disebut lonte masih ada di tempat-tempat dunia malam. Tempat wah dan semarak ini juga menyediakan minuman keras, narkoba hingga wanita yang memberi harga beraneka ragam.

Misalnya, salah satu tempat hiburan malam di sudut kota Pekanbaru yang menyajikan karaoke dan PSK. Lokasinya  tepatnya di kecamatan Rumbai. Di tempat ini, tersaji sejumlah kamar yang kerap disebut sebagai kamar 'eksekusi'.

Namun sebelumnya, pengunjung diberi ruang untuk memilih wanita yang akan diajak kencan. Para wanita itu ditempatkan di dalam ruangan kaca yang biasa disebut 'aquarium'.

Di dalam aquarium ini, para PSK dipajang, mulai dari yang berusia 19 hingga 35 tahun. Rata-rata status mereka adalah janda. Seorang wanita pramusaji yang mengaku bernama Sonia, saat berbincang mengatakan, semua PSK di tempat itu berasal dari luar Riau, kebanyakan dari Pulau Jawa.

"Saya dari Cirebon Bang, kalau cewek -cewek yang lain ada yang dari Indramayu, Surabaya, dan daerah jawa lainnya," ujar Sonia belum lama ini.

Janda beranak satu ini tak menyangka dirinya bakal dipekerjakan menjadi PSK ditempat tersebut. "Awalnya saya ditawarin kerja sebagai pelayan restoran, eh gak tau nya ke sini, ya sudahlah terlanjur, lagian susah nyari kerja Bang," kata Sonia santai.

Di tempat itu, selain tersedia PSK dan karaoke, juga tersaji berbagai minuman keras. "Kalau mau karaoke, bayar Rp 750 ribu Bang, gratis minuman bir dua pasang, kalau mau Chivas ya bayar lagi lah, karaokenya sampai jam 4 pagi, kalau mau ditemani cewek nambah Rp 250 ribu lagi per orang, "ujar Sonia.

Namun jika ingin menikmati kamar eksekusi yang disediakan lokasi, harganya bervariasi, "Kalau Short time Rp 250 ribu, kalau long time Rp 2,5 juta. Pilih saja yang mana suka, itu kan ada di aquarium cewek-ceweknya, jangan lupa kasih tipsnya Bang," kata Sonia sambil tersenyum.

Tempat hiburan malam ini pernah digerebek Polresta Pekanbaru, karena mempekerjakan anak di bawah umur. Sejumlah PSK diamankan untuk dibina, namun sang pemilik tak pernah sampai ke meja hijau. "Dulu pernah digerebek Mas, tapi sekarang udah aman," ujar Sonia lagi. 

Ada Hiburan Malam Sediakan Tarian Erotis

Di Pekanbaru, ada tempat hiburan yang menyajikan tarian erotis dengan busana nyaris bugil. Dengan iringan musik yang dimainkan DJ, tiga penari bergoyang menghibur para pengunjung dengan membayar karcis Rp 75 ribu per orang saat masuk.

Penelusuran dialapangan selama ini tempat tersebut terletak di Jalan Jenderal Sudirman Ujung. Tempat ini tak jauh dari Markas Polda Riau, sekitar 1 kilometer dari pusat kota (Depan Kantor Gubernur Riau).

Saat masuk, langsung menuju basement. Namun jika pada malam minggu, parkiran basement tidak mencukupi, pengunjung menjejerkan mobilnya di depan halamannya, hingga memakan setengah bahu jalan.

Naik ke lantai dua tempat hiburan malam tersebut, persis di depan eskalator terlihat sebuah ruangan tertutup. Ruangan itu kabarnya dijadikan sebagai tempat gelanggang permainan anak-anak yang dimainkan orang-orang dewasa. Meski di sebelah pintu masuk tertulis dilarang melakukan praktik judi dari polisi, namun bagi pengunjung yang berminat diwajibkan membeli koin dengan uang.

"Tidak ada perjudian di sini, hanya permainan anak-anak, menggunakan koin, itu saja," ujar seorang petugas jaga.

Tempat tersebut pernah digerebek Tim Mabes Polri pada pertengahan 2013 lalu. Meski sempat ditutup selama beberapa bulan, namun dibuka kembali untuk dinikmati para pengunjung.

Naik ke lantai 3, pengunjung dihadapkan kasir yang menjual tiket atau karcis untuk masuk ke dalam lounge (diskotek). Harganya Rp 75.000 per orang. Seorang wanita muda yang duduk menjual karcis memberikan stempel ke tangan pengunjung, sebagai tanda bahwa pengunjung telah membayar.

Kemudian, pengunjung masuk ke dalam lounge yang redup dihiasi lampu kedap kedip dengan warna bervariasi ada merah hijau dan biru, sebelah kiri, bartender siap melayani pesanan minuman dan makanan. Sebelah kanan terdapat sofa empuk. Kemudian menuju ke tengah berjejer meja dan kursi besi setinggi setengah meter yang disediakan untuk para pengunjung.

"Mau pesan minum dan makanan apa?," tanya seorang pelayan lelaki muda dengan pakaian kemeja putih.

Alunan musik yang dimainkan seorang DJ wanita pun membuat sorakan pengunjung sambil menari. Masing-masing meja terlihat berbagai merek minuman yang telah dituang ke dalam gelas dengan irisan jeruk lemon di bibir gelas.

Saat pukul 01.45 WIB, muncul tiga wanita dari sudut panggung dengan pakaian dalam yang hanya menutupi setengah tubuhnya. Sorakan pengunjung pun membuat penari bersemangat meliukkan tubuhnya di depan DJ. Semakin disoraki, semakin meliuk-liuk goyangan tiga penari sembari melemparkan senyum kepada pengunjung.

Tiba-tiba seorang pengunjung mendekati salah seorang penari kemudian memasukkan uang ke dalam pakaian bagian atas yang menutupi bagian tengah tubuh penari itu. sang penari pun kegirangan dan mendaratkan kecupan ke pipi pengunjung tersebut.

Sorakan pengunjung lainnya menambah semangat DJ mengatur irama musik yang diikuti goyangan erotis tiga penari selama setengah jam. Kemudian tiga penari turun dari panggung dan ditemani pelayan yang membawa belasan gelas kecil berisi minuman keras, dari panggung menghampiri pengunjung.

"Satu gelas Rp 50 ribu bang,"ujar salah seorang penari membisikkan ke telinga pengunjung.

Setelah beberapa menit menjual minuman dalam gelas kecil berukuran seperti tutup botol sirup tersebut, penari erotis pun kembali ke panggungnya dan melanjutkan goyangannya.

Tak lama, pukul 03.00 WIB, para penari kembali ke belakang panggung dengan menenteng tas nya yang sebelumnya dititipkan di atas speaker yang diawasi Bodyguard yang berdiri di sudut panggung. Hal itu menandakan pertunjukan tarian erotis pun selesai.

Namun DJ masih melanjutkan musik menghibur pengunjung yang tengah dipengaruhi minuman beralkohol, misalnya Long Island, Red Label, Jack Donald, Chivas, Black Label dan minuman yang mengandung alkohol serta non alkohol lainnya. Tempat tersebut tutup pada pukul 05.00 WIB.

Ekonomi Terpuruk Wanita Malam Mulai Gentayangan

Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, tepatnya di depan sebuah mal, menjadi tempat mangkal para wanita malam. Mereka menjajakan diri untuk dibelai dengan tarif sesuai negosiasi. 

Para wanita ini berdomisili di perumahan Jondul, yang dikenal sebagai tempat tinggal kupu-kupu malam. "Kalau ada pelanggan, kami bawa ke perumahan, Rp 300 ribu short time, longtime Rp 750 ribu sampai pagi," ujar Ayu, ditemui di tempat mangkalnya.

Ayu tak sendiri. Bersama temannya, dia menunggu pria hidung belang yang lewat untuk singgah mendekatinya. "Kami bukan asli orang sini Bang, hampir semuanya berasal dari Pulau Jawa," katanya.

Namun, meski tinggal di perumahan Jondul, pelanggan juga boleh membawa mereka ke hotel atau rumah pelanggan.

"Tergantung permintaan pelanggan, kalau di rumah kami kan lebih aman, tapi kalau diajak ke hotel boleh juga lah, tapi rumah kami tak kalah dengan hotel, ada AC juga bang," katanya.

Tak hanya menawarkan jasa 'tidur' bersama, Ayu juga menawarkan obat-obatan terlarang jika pelanggan menginginkannya. 

"Lebih enjoy kalau pakai obat Bang, kalau saya sih suka pakai sabu, kalau pelanggan mau longtime, biar lama," ujar Ayu sembari tersenyum.

Ayu tak menaruh tarif yang saklek. Jika sepi pelanggan, ia juga berani banting harga hingga Rp 200 ribu. "Ya tergantung mami, kalau mami setuju, bisa murah, tawarlah sama mami kita," ungkapnya.

Mami yang dimaksud merupakan orangtua angkat para wanita malam, yang mendapat fee dari pembookingan mereka. "Kalau short time kan Rp 250 ribu, kami dapat Rp 150 ribu, untuk mami Rp 100 ribu, kalau longtime Rp 750 ribu, kami dapat Rp 300 ribu, mami dapat 400 Ribu," cetus Ayu.

Namun, pekerjaan mereka tak mulus. Tidak setiap malam dapat pelanggan. Meski demikian, demi mencukupi kehidupannya, Ayu yang merupakan janda dengan dua anak ini tak pernah menyerah. 

"Demi anak Bang, gak ada pekerjaan lain," tandasnya. (san)


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :