Kabar Riau - Jokowi: "Maaf Pak Rektor, Mahasiswa IPB Banyak Kerja di Bank"

Jokowi: "Maaf Pak Rektor, Mahasiswa IPB Banyak Kerja di Bank"

Pimred
Share :
jokowi-maaf-pak-rektor-mahasiswa-ipb-banyak-kerja-di-bank

Jakarta, Kabarriau.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) di hadapan rektor, jajaran wakil rektor, ketua senat, dan dekan, Jokowi memberi hadiah berupa sindiran terhadap lulusan IPB dalam sambutannya.

"Maaf Pak Rektor, tapi mahasiswa IPB banyak yang kerja di bank. Saya cek direksi perbankan BUMN banyak dari IPB," ujar Jokowi di Graha Widya Wisuda IPB, Bogor, dimuat CNNIndonesia.com, Rabu (6/9/2017) lalu.

Pernyataan itu sempat disambut tepuk tangan mahasiswa. Seketika suasana hening ketika mantan Wali Kota Solo itu bertanya siapa yang ingin menjadi petani dan ia meminta pertanyaan itu harus dijawab mahasiswa. Sebab, Jokowi menyebut, banyak lulusan IPB yang 'berbelok' menjadi bankir ketimbang petani.

Sayang Jokowi tak menjelaskan secara rinci berapa banyak luusan IPB yang menjadi bankir. Kata 'banyak' yang diucapkan Jokowi tidak sesuai bila mengacu pada data di situs Alumni IPB.

Terhitung ada 6.773 alumni yang lulus pada tahun 2015. Sebanyak 4.927 alumni mengisi kuisioner tentang kesesuaian jurusan dengan pekerjaan dari sembilan fakultas dan satu diploma IPB.

Data tersebut menunjukkan 79,20 persen lulusan IPB bekerja sesuai dengan jurusan. Hanya 19,31 persen tidak bekerja sesuai jurusan dan 1,49 persen tidak diketahui. Untuk sektor pertanian, Fakultas Teknik Pertanian dengan 401 alumni menjadi peyumbang terbesar dengan 87,36 persen bekerja sesuai jurusan.

Pakar pertanian dari Universitas Padjadjaran Tommy Perdana menilai perkataan Jokowi merupakan kritik untuk semuanya, termasuk pemerintah dan Jokowi sendiri.

Tommy menilai, Jokowi jangan hanya menuntut mahasiwa lulusan pertanian untuk bekerja di sektor pertanian, tapi seharusnya juga berpikir bagaimana pemerintah membangun sektor pertanian Indonesia menjadi lebih baik. Karena itu, Jokowi dan pemerintah harus ikut menjawab pertanyaan siapa yang harus bekerja di sawah jika itu dianggap sebagai masalah, sebagaimana dilontarkan Jokowi.

Menurut Tommy masalah pertama pertanian Indonesia terletak pada bagian hulu. Bagian hulu yang seharusnya dihuni orang berbekal pengetahuan dengan latar pendidikan sarjana, malah dihuni orang yang berpendidikan bukan sarjana.

"Jika di hulu sudah kurang baik, maka sampai hilir juga akan kurang baik. Oleh sebab itu jangan terpaku pada hilir saja," ujar Tommy saat dihubungi, Sabtu (9/9) malam.

Fokus pada Kemaslahatan Bersama

Masalah kedua, kata Tommy, pemerintah tidak fokus menjadikan suatu komoditas sebagai andalan. Saat ini terkesan pemerintah tampak ingin semua komoditas menjadi andalan secara bersamaan, namun masih belum mampu.

Tommy mengatakan pemerintah sebaiknya fokus pada satu komoditas yang berpengaruh pada kehidupan banyak orang, seperti beras. Bila fokus pada satu komoditas, maka hasil produksi akan menjadi bagus dan memiliki daya saing sehingga tak perlu impor. Setelah itu baru fokus ke komoditas lain secara bertahap

"Kalau sekarang komoditas pertanian Indonesia tidak memiliki daya saing dan harganya murah, akhirnya impor dengan harga mahal. Dengan begitu lulusan pertanian pilih kerja di tempat lain karena di pertanian peluang kecil dan risiko tinggi," kata Tommy.

Lulusan S2 dan S3 IPB ini menilai masalah pertanian di Indonesia bagai 'lingkaran setan'. Terus berputar dengan masalah dan tak akan selesai bila salah satu titik tidak diperbaiki. Bila lulusan pertanian dinilai solusi namun banyak yang tak bekerja di sektor pertanian, maka pemerintah harus bergerak melakukan solusi lebih dulu.

"Kalau pemerintah sudah bisa perbaiki kualitas dan daya saing komoditas, nanti yang lain akan ikut baik. Dengan begitu lulusan pertanian lebih yakin kerja di sektor pertanian karena peluang kerja besar, terutama pada bagian hulu," kata Tommy.

Terpisah, Sarjana Ekologi Manusia IPB Aryani Delantia mengatakan, peluang kerja di sektor pertanian Indonesia masih sangat kecil. Ia setuju dengan Tommy bahwa pemerintah juga harus 'merangkul' lulusan pertanian dengan berbagai cara agar tak lari ke sektor lain.

"Jujur saat kuliah saya suka dengan jurusan yang saya pilih. Tapi ketika lulus peluang kerja yang sesuai dengan jurusan itu tidak banyak, akhirnya beralih ke sektor lain," kata Dela dihubungi terpisah.

Saat kuliah, kata Dela, ia mempelajari bagaimana seorang petani mengelola sumber daya dengan baik agar hidup sejahtera bersama keluarga dan tidak dikelabui sejumlah pihak. Dela yang lulus dari jurusan pertanian tersebut bisa bekerja pernah menjadi peneliti yang memberikan pembinaan pada petani. Ia sempat menerapkan ilmu yang didapat saat praktik kerja lapangan di Garut, Jawa Barat.

Dela mengaku saat ini bekerja pada salah satu bank milik BUMN. Ia tak merasa berdosa atas pekerjaan itu dan tetap bisa berkontribusi pada pertanian, seperti penyaluran dana kredit pada petani.

Hal serupa diungkapkan oleh Sarjana Agronomi IPB Endro Priherdityo yang kini bekerja sebagai jurnalis. Ia mengaku diajarkan untuk bertahan di berbagai bidang sehingga tak perlu merasa bersalah bekerja di media massa. Apalagi ia bisa memberitakan masalah pertanian lain yang bukan cuma soal harga yang melambung tanpa tahu sebab sejatinya.

"Kami juga mau kerja di bidang pertanian, tapi manusia juga perlu realistis. Andai pemerintah kita seserius Thailand dalam menggarap pertanian, saya yakin lulusan IPB siap turun," kata Endro.

Endro menambahkan, Indonesia punya banyak ilmu, sumber daya manusia yang melimpah, dan ribuan inovasi, namun belum semuanya dilirik pemerintah.

"Apa pemerintah sudah melirik itu semua? Ya jangan salahkan kami kalau pada akhirnya mencoba survive di bidang lain," ujar Endro".


 


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :