Kabar Riau - 19 Jenis Sabun Antiseptik Dilarang Beredar 

19 Jenis Sabun Antiseptik Dilarang Beredar 

Roni
Share :
19-jenis-sabun-antiseptik-dilarang-beredar 

Tips, Kabarriau.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menyebut para label sabun Antiseptik tidak mampu membuktikan mereka lebih baik dibanding sabun biasa dan air.

"Konsumen akan berpikir mencuci dengan sabun antibakteri atau antiseptik lebih efektif mencegah penyebaran kuman, namun kami tidak memiliki bukti ilmiah bahwa mereka lebih baik dibanding sabun biasa dan air," kata Janet Woodcock, direktur Pusat Penelitian dan Kajian Obat FDA, Jumat (2/9/2017) seperti dilansir dari laman resmi FDA.

"Faktanya, beberapa data menunjukkan bahwa komposisi antibakteri lebih mungkin berdampak buruk dalam jangka waktu panjang," lanjutnya.

Pelarangan penjualan sabun yang mengandung senyawa kimia antibakteri berlaku per 6 September 2017. Tindakan ini sudah mulai diajukan sejak 2013 ketika beberapa studi menunjukkan bahwa komposisi antiseptik pada berbagai sabun tidak terbukti membawa manfaat pada kesehatan tubuh.

Masalahnya, beberapa senyawa antiseptik tersebut akrab pada sabun yang ada di Indonesia. Di antaranya adalah triclosan (TCS) pada sabun cair dan triclocarban (TCC) pada sabun batang.

Atas temuan beberapa hasil studi tersebut, FDA sudah meminta produsen sabun antiseptik atau peralatan mandi yang menggunakan senyawa tersebut untuk membuktikan manfaat sabun kepada lembaga penanggung jawab obat.

"Produsen pembersih tangan dan tubuh tidak dapat membuktikan data yang diperlukan atas keamanan dan efektivitas dari 19 jenis bahan aktif," tulis FDA.

Namun FDA masih menangguhkan keputusan atas tiga bahan kimia atas permintaan industri karena masih dalam taraf pengujian. Ketiga bahan tersebut adalah benzalkonium chloride, benzethonium chloride, dan chloroxylenol (PCMX). Namun penangguhan ini hanya berlaku selama satu tahun.

Menurut hasil keputusan federal, ke-19 jenis senyawa yang dimaksud adalah Cloflucarban, Fluorosalan, Hexachlorophene, Hexylresorcinol, Ammonium ether sulfate, Polyoxyethylene sorbitan monolaurate,  Phosphate ester (alkylaryloxy polyethylene glycol), Methylbenzethonium chloride, Nonylphenoxypoly (ethyleneoxy) ethanoliodine, Phenol, Poloxamer,  Povidone-iodine, Amyltricresols sekunder, Sodium oxychlorosene, Tribromsalan, Triclocarban, Triclosan, Triple Dye, dan Undecoylium chloride.

Berdampak Jangka Panjang

Keputusan FDA ditanggapi gembira oleh para ilmuwan, salah satunya dari Arizona State University. Universitas ini adalah salah satu lembaga yang menemukan bahwa senyawa antiseptik pada berbagai sabun tersebut memiliki pencemaran lingkungan dan kesehatan dalam jangka panjang.

"Kebanyakan orang tidak menggunakan produk perawatan diri dengan baik dan tidak sadar akan bahaya yang mengintai di balik itu semua, yang berlangsung dekade atau lebih lama lagi," kata Rolf Halden, profesor teknik lingkungan Arizona State University, seperti dilansir dari laman resmi kampus.

Tim Halden adalah yang pertama menemukan endapan limbah TCC dan TCS di New York dan diduga berasal dari dekade 1950-an. Struktur senyawa kimia ini disinyalir sulit diurai oleh alam.

Lebih jauh lagi, Halden dan kawan-kawan menemukan senyawa kimia antiseptik tersebut pada tubuh bayi yang baru lahir.

Penemuan ini menuntun pada fakta bahwa senyawa tersebut memiliki kemampuan menghambat perkembangan seksual dan saraf. Selain itu, terjadi penurunan usia kehamilan pada persalinan ibu yang terpapar TCC.

Hasil studi Laura Geer dari State University of New York menunjukkan bahwa ada hubungan antara antiseptik pada kosmetik seperti butil paraben dengan semakin memendeknya panjang bayi yang baru lahir.

Meski Geer masih belum menemukan konsekuensi lebih panjang, namun bila terbukti dalam penelitian lebih luas maka bisa jadi paparan senyawa antiseptik ini menyebabkan pergeseran ukuran bayi yang baru lahir secara masif namun perlahan.

Beberapa perusahaan telah mengonfirmasi membuang senyawa seperti TCC dan TCS dalam produk mereka.

Penarikan kosmetik di Inggris

Kepedulian dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan pun dilakukan oleh Inggris. Jika Amerika menarik sabun antiseptik yang dianggap 'tak berguna', maka Inggris menarik kosmetik.

Bukan karena penggunakan merkuri seperti yang terjadi di Indonesia beberapa tahun lalu, namun karena kandungan microbeads.

Dilansir dari The Guardian, microbeads merupakan partikel plastik yang mikroskopis dan biasa digunakan pada facial scrub dan kosmetika. Ahli lingkungan mengatakan bahwa polusi dari microbeads ini mengganggu pertumbuhan ikan di laut dan bertahan di otot mereka dan memungkinkan dikonsumsi oleh makhluk lebih besar seperti manusia.

Selain menghindari microbeads, konsumen juga harus menghindari senyawa lain yang jadi polutan seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), polimetil metakrilat (PMMA), polytetrafluoroethylene (PTFE) dan nilon.
 


Berita Terkait

Komentar Via Facebok :